Ditulis oleh: MAKMUN, S.Th.I., Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Pengembangan informasi KPU Kabupaten Gresik

 

Umar ibnu Khattab pernah mengemukakan sebuah statement tentang peran penting perempuan dalam hubungannya dengan kesuksesan seseorang. Saat bertemu dengan orang yang kamu anggap sukses –kata Umar- tanyakan dua hal kepadanya. Pertama siapa perempuan yang melahirkannya, kedua siapa perempuan yang menjadi pasangan hidupnya. Diakui atau tidak, hingga saat ini kebenaran dari hipotesis yang lahir dari khalifah kedua islam itu sulit terbantahkan. Merujuk pada hipotesa inilah kita memahami betapa besar peran dan keterlibatan perempuan dalam kehidupan individu.

Bila dirujuk pada referensi kesejarahan di negeri ini, peran dan kiprah makhluk yang disebut perempuan itu juga amat besar. Bahkan dalam cerita pewayangan yang seringkali menjadi basic nilai-nilai yang dirujuk oleh mayoritas masyarakat jawa, kiprah seorang perempuan di dunia politik dan kekuasaan juga terbilang sentral. Sebut saja tokoh bernama Woro Srikandi, istri Arjuna. Dia digambarkan sebagai seorang perempuan perkasa yang piawai dalam seni dan strategi perang. Bukan seorang sosok yang hanya ahli dalam bidang semisal memasak, mencuci piring dan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Pekerjaan yang seringkali distigmakan secara tidak adil pada perempuan.

Perempuan dalam Demokrasi dan Pemilu

Peran penting serta partisipasi aktif seorang perempuan juga bisa dijumpai dalam setiap upaya membangun demokrasi yang sehat. Hal itu karena sebuah demokrasi -meskipun dalam skala terkecil-butuh partisipasi proaktif dari seluruh anggotanya. Demokrasi dalam sebuah rumah tangga adalah salah satu contohnya. Maka untuk kesuksesannya, peran perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan berpijak pada data-data di lapangan, bisa diambil satu kesimpulan, seringkali partisipasi kaum perempuan lebih aktif dibanding laki-laki.

Peran aktif perempuan serta partisipasinya dalam mensukseskan sebuah pemilu bisa juga kita telisik dalam setiap ajang pemilu. Di ajang pemilu, ada indikasi kuat yang menunjukkan bahwa ternyata peran serta kaum hawa jauh lebih kentara daripada kaum adam. Dari tahun ke tahun partisipasi mereka mengalami peningkatan dalam grafiknya.

Salah satu hal yang cukup menarik, di setiap Pemilu yang diselenggarakan, partisipasi perempuan lebih tinggi daripada partisipasi kaum lelaki untuk datang ke TPS guna menyampaikan aspirasinya. Di Gresik misalnya, partisipasi perempuan dalam pilkada 2015 mencapai 37,31 %. Sementara laki-laki hanya 32,64 %. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa perempuan nyatanya lebih pro-aktif dibanding lelaki dalam upaya menyampaikan aspirasi politiknya.

Partisipasi perempuan juga semakin meningkat dalam berkiprah di ranah politik dan kekuasaan. Dalam ajang pemilihan anggota legistatif, semakin banyak perempuan yang berani tampil di panggung politik. Di tahun 1999 partisipasi perempuan di parlemen hanya 8 %, yakni hanya 40 dari 500 orang anggota parlemen. Kemudian pada tahun 2004 ada peningkatan menjadi 11,2 %. Terdapat 62 dari 550 orang anggota parlemen. Grafik kenaikan tingkat partisipasi perempuan ini terus berlanjut sehingga pada tahun 2009 partisipasi mereka meningkat jadi 18,6 %. Ada 104 anggota parlemen perempuan dari 560 orang anggota parlemen. Menariknya, grafik partisipasi kaum hawa ini justru mengalami penurunan pada pemilu tahun 2014. Tingkat partisipasi yang di masa sebelumnya telah sampai pada 18,6 % justru turun menjadi 17,3 %. Satu fenomena yang jelas menyisakan sebuah pekerjaan rumah bagi kita semua, khususnya para penyelenggara pemilu untuk menemukan akar persoalannya untuk kemudian  mencari solusinya. Dengan harapan, di ajang pemilu mendatang proses penurunan tingkat partisipasi perempuan ini tidak kembali terulang.

 

Stigma Manipulatif tentang Perempuan

Keterlibatan perempuan secara maksimal dalam sebuah demokrasi ternyata sudah eksis, meski seringkali luput dari perhatian kita. Sebab demokrasi dalam prakteknya tidak hanya berlaku di ruang-ruang publik, tapi juga ruang-ruang lain yang skalanya lebih kecil. Semisal ranah domestik dalam sebuah rumah tangga. Dan di dalam ruang domestik ini kentara sekali peran serta dan partisipasi perempuan lebih dominan dibanding laki-laki.

Jika di ranah domestik perempuan faktanya bisa terlibat secara penuh, mampu bergandeng-tangan dengan laki-laki untuk meciptakan sebuah rumah tangga yang demokratis, mestinya di ruang publik mereka juga mampu melakukannya. Memang masih ada stigma yang terkesan kurang adil tentang posisi dan peran seorang perempuan di mata umum. Seperti nasihat yang mengatakan bahwa perempuan itu tidak pantas menjadi pemimpin, perempuan itu hanya layak mengurusi masalah-masalah rumah tangga dan pendapat-pendapat miring lainnya. Gempuran nasihat tidak adil ini lalu mengkristal dan menjadi suatu hal yang oleh perempuan sendiri dianggap suatu kebenaran. Sehingga mereka enggan serta tidak berani tampil di ranah publik.

Keengganan perempuan untuk berkiprah di ranah politik dan kekuasaan juga disebabkan masih melekatnya stigma bahwa perempuan tidak layak memiliki tempat di ranah publik. Perempuan hanya patut berkiprah di ranah pribadi yang dalam istilah jawa sumur, dapur dan kasur. Stigma yang terkesan mengecilkan peran perempuan itu bila dilacak akan bermuara pada pembagian wilayah dalam berkiprah yang pernah dibuat oleh penguasa di masa colonial.

Untunglah, beberapa waktu yang lalu telah terbit sebuah buku yang merupakan hasil kajian serta pelacakan historitas pereempuan oleh Peter Carey dan Vincent Houben yang hasil pelacakan kesejarahan perempuan sampai pada satu kesimpulan bahwa sebelum era Daendels banyak perempuan di negeri ini yang memiliki pengaruh dan peran yang sangat besar bagi kelangsungan politik sebuah kerajaan. Misalnya saja kerajaan Mataram dibawah kekuasaan Anangkurat I. Anak Sultan Agung itu memang tidak terlalu percaya pada panglima-panglima Mataram laki-laki. Sehingga dia, untuk menjadi pengawal pribadinya, merekrut para perempuan tangguh yang sudah terlatih. Bahkan sebelum Perang Jawa, di Surakarta sudah muncul “korps Srikandi” yang semuanya adalah perempuan-perempuan terlatih dan memiliki peran penting dalam mengamankan dan melindungi raja (Istikhari/JP/01/05/2016) .

Adagium yang mengatakan bahwa sejarah adalah milik yang mereka yang menang memang ada benarnya. Di saat Daendels menjadi gubernur Belanda yang menjajah negeri ini, dia membuat semacam dikhotomi yang tidak adil tentang peran yang harus diberikan perempuan dalam berbangsa dan bernegara. Daendels mengatakan bahwa “perempuan tidak punya tempat dalam penghormatan umum dan terhadap perempuan hanya ada urusan pribadi”

Akhirnya, kesuksesan pemilu adalah salah satu syarat penting bagi terciptanya sebuah demokrasi yang sehat. Dan hal tersebut adalah keinginan serta cita-cita kita bersama untuk membangun negara demokratis yang semakin kokoh. Sehingga usaha mensukseskan pemilu bukan semata-mata merupakan tanggung jawab para penyelenggara, tapi juga tanggung jawab kita semua. Sehingga seluruh warga negara ini diharapkan juga semakin pro-aktif dan berpartisipasi secara maksimal dalam setiap upaya mensukseskan pemilu. Semoga.