Selebritisasi Politik

By Admin on May 20, 2016 with 0 Commnets

Hingar-bingar Pemilihan Umum dan Pilkada seakan tidak pernah lepas dari ingatan meski sudah berlalu dan sudah menghasilkan pemimpin-pemimpin yang mengelola negara. Sebagian besar tersenyum lega karena berhasil menarik simpati khalayak, namun tidak sedikit yang masih terpukul karena tidak berhasil mengumpulkan suara terbanyak pada saat hari pemungutan suara.

Pada saat tahapan pemilihan, banyak elemen yang beralih (terpaksa-red) menjadi selebritis. Mulai Sang Kandidat, mahasiswa, tokoh masyarakat, akademisi dan tidak kalah serunya si penyelenggara pemilu sendiri. Wajah dan statemen mereka banyak menghiasi media massa baik elektronik maupun cetak. Bahkan tidak jarang, wajah mereka lebih dominan daripada berita-berita lainnya  

Arief Budiman. Komisioner KPU RI  dalam Diskusi  Memaknai Demokrasi Pemilu Berintegritas. Dan Bedah Buku Selebritisasi Pemilu milik Sufiyanto, melihat fenomena selebritisasi politik tumbuh pesat sejak tahun 1999. Mereka secara tidak sadar menjadi seorang selebritis dan peran media dalam hal ini ikut membentuknya.

“Lihat saja, mereka jadi jarang kelihatan di kantor, ternyata menghadiri undangan sosialisasi dan menjadi nara sumber di media massa.  Mereka langsung datang ketika ada undangan, “ ujarnya, Rabu (10/5).

Lantas apakah memang berpengaruh signifikankah dengan perolehan suara para kandidat ? Ternyata tidak selalu. Memang, iklan pencitraan maupun kampanye mereka di media massa mendongkrak suaranya. Tetapi tidak selalu begitu. Sebab dalam bukunya Sufiyanto, Selebritisasi Pemilu, semakin sering khalayak melihat tokoh tersebut mencitrakan diri, khalayak makin tidak respek .

Arief Budiman sepakat jika media massa ikut menaikkan popularitas para selebritis politik, tapi tidak liner berpengaruh nyata. “Justru ada yang melakukan cara tatap muka sesering mungkin tanpa banyak mengeluarkan dana iklan media. Ada yang menggunakan cara blusukan, ternyata mereka mendapat suara banyak dan jadi anggota dewan tuh, “ lanjut Arief.

Saat ini yang harus menjadi warning buat media massa agar semakin berhati-hati membuat iklan pencitraan, sosialisasi maupun kampanye, sebab masyarakat sudah semakin kritis dan cerdas.  Tampilan yang seperti itu-itu saja akan dilewatkan oleh khalayak.  Masyakat tahu akan kepura-puraan. Media massa dan kandidat sudah mensetting sedemikian rupa agar terlihat bagus. “ Tetapi masyarakat semakin hati-hati meskipun kemasan iklan itu menarik. Mereka berpikiran, iklan produk bisa langsung dirasakan manfaatnya.  Tetapi iklan poltik, jika mereka tidak objektif maka akan menyesal lima tahun ke depan (kpugres/vet)