Oleh: Kholil (tenaga Pendukung KPU Kabupaten Gresik)

Saya pernah berdiskusi dengan kawan saya saat masih mahasiswa, ia melontarkan pertanyaan yang belum saya jawab, ia bertanya “Kenapa kita sibuk-sibuk pemilu, ikut-ikutan partai dan berdemokrasi, padahal semua itu tidak ada dan tidak diajarkan oleh Islam”

Pertanyaan kawan saya tersebut bisa jadi representasi dari apa yang ada di benak beberapa warga Indonesia, yang perlu dicari solusi dan jawabannya.

Bagi saya, tantangan (at Tahaddiyat) agama paling besar saat ini adalah bagaimana ia mampu menjawab krisis social politik yang dihadapi manusia. Problematika dan persoalan baru pasti akan selalu hadir dan bermunculan sedangkan teks agama atau wahyu sudah putus, untuk itulah perlu ijtihad dan penggalian hukum guna menjawab permasalahan tersebut.

Memang agama itu mengatur segala sisi kehidupan manusia, termasuk kehidupan berpolitik, termasuk system demokrasi yang berlaku sekarang ini, untuk di Indonesia sejarah telah mencatat sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia bangsa Indonesia tak terkecuali para ulama dan tokoh masyarakat memilih Pancasila sebagai dasar Ideologi dan UUD 45 sebagai dasar Negara, dalam pasal 20 UUD 45 bahwa kebebasan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan dan sebagaianya ditetapkan dengan undang-undang.

Kenapa para ulama masa itu tidak menentang demokrasi pancasila? Karena setelah dikaji secara panjang, nilai-nilai  pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan dengan Pancasila bisa merangkul dan mengikat semua elemen bangsa dalam bingkai Negara kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Prof. Abdul Mukthie Fajar, S.H dalam bukunya Partai Politik dalam perkembangan ketatanegaraan mengatakan bahwa sejak tahun 1945 hingga 2017 demokrasi kita telah berkembang dalam tiga era demokrasi:

  1. Demokrasi Era orde lama (1945-1966) yang meliputi Demokrasi Liberal Parlementer (1945-1959) dan Demokrasi Terpimpin (1959-1966)
  2. Demokrasi Orde Baru (1966-1998) atau Demokrasi Pancasila
  3. Demokrasi Era Reformasi (1998- Sekarang)

Jadi, demokrasi kita itu bisa berdinamika dan mengikuti jaman yang dalam hal ini Indonesia mempunyai demokrasi yang spesifik berbeda dengan demokrasi di Negara lain.

Saya yakin, perkembangan demokrasi Indonesia masih akan mengalami pelbagai dinamika dalam perkembangannya. Dari tiga periode tersebut mayoritas ulama Indonesia tidak ada yang mempersoalkannya secara agama, bahkan banyak ulama-ulama hebat semisal Gus Dur, Gus Shalah, KH. Hasyim Muzadi dan sebagainya terlibat langsung dalam politik berdemokrasi.

Dalam berdemokrasi diatur cara pemilihan dan penyampaian pendapat yang berasas musyawarah, musyawarah untuk mufakat, dengan menghargai pendapat orang lain merupakan salah satu ajaran agama Islam.

Justru agama harus menjadi ruh, pembangun karakter, dan pemberi solusi segala kehidupan berdemokrasi. Seorang politisi seharusnya memegang teguh prinsip-prinsip agama dengan mengedepankan kejujuran, keikhlasan dan pengorbanan.

Untuk itulah, sungguh kurang bijak bila seseorang masih mempertentangkan Islam dengan demokrasi di Indonesia, hingga akhirnya ia tidak mau memilih, menjadi Golput dan tidak peduli pada kemajuan bangsanya. Padahal, kalau kita tidak termasuk bagian dari pemberi solusi, bisa jadi kita termasuk bagian pembuat masalah di negeri ini.