SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI KPU KABUPATEN GRESIK                                                SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI KPU KABUPATEN GRESIK                                                              SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI KPU KABUPATEN GRESIK                                                         SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI KPU KABUPATEN GRESIK 

 

IMG-20190206-WA0108Divisi Sdm & Parmas KPU Gresik terus gencarkan sosialisasi pemilihan umum 2019 (6/2/19) di depan 80 emak-emak yang berlangsung di balai Desa Tambakrejo Duduksampeyan Gresik. Sosialisasi bertujuan untuk meningkatkan angka partisipasi pemilih perempuan pada 17 April 2019 mendatang. Makmun Divisi Sdm & Parmas KPU Gresik dalam hal ini fokus sasar pemilih perempuan khususnya para emak-emak rumah tangga yang begitu antusias mengikuti sosialisasi tersebut hingga usai.
 
Makmun juga menjelaskan akan pentingnya menggunakan hak pilih, karena satu suara sangat berdampak pada nasib bangsa mendatang.
"Nasib negara ada di pundak kita semua, oleh karena itu mari bersama-sama datang ke TPS dan gunakan hak pilih anda" jelas Makmun. 
Basis pemilih perempuan menjadi prioritas sosialisasi dan pendidikan pemilih karena perempuan dianggap mampu memotivasi dan mengedukasi terhadap lingkungan dan komunitasnya. 
 
"Kita maksimalkan pemilih perempuan ini terlebih di kalangan emak-emak, mengingat pentingnya peran dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya",terang Makmun.
Aminah salah satu peserta menyatakan sangat senang dan bangga bisa bertatap muka dengan KPU secara langsung, yang selama ini KPU tidak pernah terjun ke desa-desa kecil seperti ini. “Kami sangat senang dan bangga atas kehadiran KPU Gresik di Desa kami, dan kami berjanji akan datang ke TPS untuk mencoblos dan mensukseskan pemilu pada 17 April 2019 mendatang”, tegas bu Aminah.
Makmun berpesan supaya mengajak keluarga terdekatnya supaya menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2019 mendatang. "saya harap, emak-emak sekalian turut membantu mensosialisasikan hal ini kepada keluarga dan teman dekatnya masing-masing" tambahnya. 
 
Acara sosialisasi diakhiri dengan tanya jawab dan pemberian hadiah bagi yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh KPU serta dilanjutkan dengan deklarasi Sukseskan Pemilu 2019 yang diikuti oleh seluruh peserta. (adm/mun)
IMG-20190202-WA0021
Dua bulan menuju pemilu serentak 17 April 2019, Divisi Sdm dan Parmas KPU Kabupaten Gresik, Makmun, M.Ag gencarkan sosialisasi pemilu serentak di Komunitas Buruh SPSI Gresik. Acara diikuti 60 personal buruh, 1/2/19 di Resto Joyo Hartono Gresik.
Di depan komunitas buruh Gresik, Makmun menjelaskan pentingnya peran masyarakat atau komunitas dalam mensukseskan pemilu serentak pileg dan Pilpres dan untuk tidak Golput. "suara anda sangat menentukan untuk Indonesia 5 tahun ke depan" tutur Makmun.
 
Makmun menambahkan tentang tatacara pindah milih bagi para buruh yang bekerja di luar kota kelahirannya, yakni dengan datang ke kantor KPU se tempat. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi tambahnya jumlah Golongan Putih (Golput).
 IMG-20190202-WA0022
 
"Silahkan datang ke KPU se tempat bagi yang tidak bisa menggunakan hak suaranya di tempat domisilinya" tambahnya. 
 
Acara sosialisasi ini diakhiri dengan dialog dan tanya jawab tentang kepemiluan serta tentang tatacara untuk mengantisipasi bertambahnya jumlah Golput di kalangan buruh. (adm/mun)
 
 
 

Pemilih Pemula, Sang Sasaran Potensial

By Admin on Jan 24, 2019 with 0 Commnets

Salah satu segmen yang disasar oleh KPU dalam melaksanakan sosialisasinya adalah pemilih pemula. Mereka yang sudah berumur 17 tahun, dengan ditandai dengan kepemilikan KTP Elektronik adalah pangsa yang paling potensial dalam meningkatkan partisipasi kehadiran di TPS. Tidak hanya KPU, tetapi mungkin seluruh peserta pemilu akan menyentuh para muda dalam menyosialisasikan program-progamnya (baca kampanye).

Kenapa anak muda ? Sebab anak muda menjadi penentu arah demokrasi Indonesia ke depan dalam pilkada dan pemilu yang akan dilaksanakan. Jumlahnya yang signfikan sebenarnya  bisa memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini. Oleh karena itu, segala upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan lagi partisipasi mereka dalam memberikan hak pilih. Sedangkan bagi peserta pemilu, suara mereka  memberikan kontribusi jumlah yang cukup signifikan

Berdasarkan data untuk pilkada 2018 di 171 daerah jumlah pemilih sekitar 160 juta lebih dan presentasi generasi milineal hampir setengahnya, sebanyak  40 persen lebih pemilih itu di bawah usia 40 tahun. Artinya, jumlah pemilih pemula itu signifikan

Saat ini, generasi muda juga sudah mulai didekati partai politik karena jumlah mereka yang besar. Selain itu, potensi yang dimiliki anak muda juga cukup mumpuni. Mereka bergerak dinamis dan berpikir kritis. 

Generasi milineal mampu beradaptasi baik dengan media sosial. Hanya saja, kadang Medsos yang  menjadi pemantik seputar isu politik dianggap bahasan yang sangat serius dan berat bagi anak muda, sehingga seringkali tidak menjadi pilihan dalam obrolan anak muda. Nampak perlu ada bahasa yang berbeda bagi anak muda dalam bahasa politik, supaya diterima oleh anak muda.

Yang harus dipikirkan oleh KPU maupun peserta pemilu agar kawula muda menjadi demen politik, sosialisasi dikemas semenarik dan sekreatif untuk melibatkan mereka. KPU memiliki strategi untuk menggelorakan pemilu 2019. Diantaranya lewat game-game, lomba musik hingga pertandingan olah raga yang semuanya dibumbui dengan sentuhan pengenalan politik. Sebagai contoh lomba musik, lagunya harus ada unsur cinta negara, bela negara dan lain-lain. Pertandingan olah raga dikemas dengan penyertaan unsur jargon-jargon terkait nasionalisme dan masih banyak lagi.

Sekarang di KPU juga sudah ada rumah pintar pemilu yang memperkenalkan dan menjelaskan pemilu berbasis pemilih pemula. Mereka dapat belajar secara visual dengan sarana dan prasarana yang ada di dalamnya. Diharapkan bisa menjadi sumber kaderisasi. Kaum milenial harus didorong secara perlahan untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan.

Pemuda Pemudi milenial juga disentuh belajar soal politik inklusif. Sebab, selama ini kontestasi politik negeri ini lebih mengarah pada politik yang saling menihilkan satu sama lain. Anak muda harus berperan strategis dalam merangkul orang dari berbagai kalangan yang beragam. (adm/vety)

 

Oleh: Elvita Yuliati

Pemilih Pemula, Sang Sasaran Potensial

By Admin on Jan 23, 2019 with 0 Commnets

 

Salah satu segmen yang disasar oleh KPU dalam melaksanakan sosialisasinya adalah pemilih pemula. Mereka yang sudah berumur 17 tahun, dengan ditandai dengan kepemilikan KTP Elektronik adalah pangsa yang paling potensial dalam meningkatkan partisipasi kehadiran di TPS. Tidak hanya KPU, tetapi mungkin seluruh peserta pemilu akan menyentuh para muda dalam menyosialisasikan program-progamnya (baca kampanye).

Kenapa anak muda ? Sebab anak muda menjadi penentu arah demokrasi Indonesia ke depan dalam pilkada dan pemilu yang akan dilaksanakan. Jumlahnya yang signfikan sebenarnya  bisa memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini. Oleh karena itu, segala upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan lagi partisipasi mereka dalam memberikan hak pilih. Sedangkan bagi peserta pemilu, suara mereka  memberikan kontribusi jumlah yang cukup signifikan

Berdasarkan data untuk pilkada 2018 di 171 daerah jumlah pemilih sekitar 160 juta lebih dan presentasi generasi milineal hampir setengahnya, sebanyak  40 persen lebih pemilih itu di bawah usia 40 tahun. Artinya, jumlah pemilih pemula itu signifikan

Saat ini, generasi muda juga sudah mulai didekati partai politik karena jumlah mereka yang besar. Selain itu, potensi yang dimiliki anak muda juga cukup mumpuni. Mereka bergerak dinamis dan berpikir kritis. 

Generasi milineal mampu beradaptasi baik dengan media sosial. Hanya saja, kadang Medsos yang  menjadi pemantik seputar isu politik dianggap bahasan yang sangat serius dan berat bagi anak muda, sehingga seringkali tidak menjadi pilihan dalam obrolan anak muda. Nampak perlu ada bahasa yang berbeda bagi anak muda dalam bahasa politik, supaya diterima oleh anak muda.

Yang harus dipikirkan oleh KPU maupun peserta pemilu agar kawula muda menjadi demen politik, sosialisasi dikemas semenarik dan sekreatif untuk melibatkan mereka. KPU memiliki strategi untuk menggelorakan pemilu 2019. Diantaranya lewat game-game, lomba musik hingga pertandingan olah raga yang semuanya dibumbui dengan sentuhan pengenalan politik. Sebagai contoh lomba musik, lagunya harus ada unsur cinta negara, bela negara dan lain-lain. Pertandingan olah raga dikemas dengan penyertaan unsur jargon-jargon terkait nasionalisme dan masih banyak lagi.

Sekarang di KPU juga sudah ada rumah pintar pemilu yang memperkenalkan dan menjelaskan pemilu berbasis pemilih pemula. Mereka dapat belajar secara visual dengan sarana dan prasarana yang ada di dalamnya. Diharapkan bisa menjadi sumber kaderisasi. Kaum milenial harus didorong secara perlahan untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan.

Pemuda Pemudi milenial juga disentuh belajar soal politik inklusif. Sebab, selama ini kontestasi politik negeri ini lebih mengarah pada politik yang saling menihilkan satu sama lain. Anak muda harus berperan strategis dalam merangkul orang dari berbagai kalangan yang beragam. (adm/vety)

 

Oleh: Elvita Yuliati